Parto dan Puisi #PartoStory01


            Perkenalkan nama untuk tokoh kali ini ialah Suparto Abdullah, namun karena terlalu sering nonton OVJ maka sahabatnya memanggilnya Parto. Ini menjadi cerita berlanjut untuk setiap hal yang ada di blog ini, untuk menjadikannya akrab maka kata ganti yang di pakai ialah saya #BukanSaya. Lebih baik ia sendiri yang bercerita. Duduk manis dan senyum saja yah !

Rif, kamu mau mendengar cerita saya” ? Sambil menyenggol bahu tangan, karena mereka masih berada di ruang kelas.
            Cerita apa ? kalu cerita mesum, tak mau lah saya mendengarnya.” Sembari sibuk memainkan Handphone di tangannya. “Gini loe rif, sebenarnya ini belum saya ceritakan ke siapa-siapa, dan loe yang pertama” Sembari mengamati sekitarnya, dan ternyata teman-teman sekelasnya pada sibuk mengerjakan tugas minggu kemaren. Karena melihat kondisi aman, maka ia utarakan lah maksudnya ke arif.
            “Sebenarnya saya ini rif, “ Untuk menambah kesan penasaran maka nada suara saya permainkan, dan ternyata benar-benar ampuh. Arif yang tadi sibuk memainkan handphonenya, ternyata mulai fokus dan mendekat dengan saya.
            “saya ini rif”,,,, “ia terus apa selanjutnya “ tanya arif dengan tergesa-gesa. Saya dekatkanlah mulut saya ke hidungnya agar tak banyak yang mendengarnya.
            “Saya ini,,,,,. “iya !”
Saya ini Spiderman, rif.” Bisikku ke telinganya.
            “kampret loe, Gue tadi sempet dek-dekan. Gue pikir loe tadi mau nyatai perasaan ke gue, makanya gue merinding. Awas loe yahh !” Seperti biasa pasti dia ngomong kampret, jika di kerjai.
            Hahaha, Saya pun tertawa terbahak-bahak hingga perut saya sakit, “makanya jangan serius amat melihat handphone mu itu, belum ada yang maling hati Hasanah kok.” Ekspresi arif pun hanya cemberut.
            Ternyata teman-teman pada lihat ke saya semua, karena sepertinya terganggu dengan tawa saya yang cukup keras.
** Dosen pun masuk **
            ‘,,” Tugas yang dua hari kemaren, harap kumpul di depan yah. Siapa yang tidak buat ?” Sembari mengeluarkan laptop untuk membuka bahan materi kuliah.
            Saya pun menunjuk tangan, dengan di ikuti suara “saya buk”, emang kenapa kamu tidak buat tugas itu ? lantas dengan spontan, “saya lupa buk untuk membuatnya di rumah” jawab saya dengan lugas.
“Yah sudah kamu silahkan keluar karena ibu hari ini tidak lupa sama kamu, dari pada saya mengajar tidak fokus maka lebih baik kamu keluar.”
Suara ibuk ini masih seperti biasa dengan nada datarnya dengan gaya yang cuek, namun sebagian mahasiswa termasuk saya mengartikan ini adalah bentu kesombongan abad ini.
“Untung ia lahir duluan, coba lahirnya dekatan pasti gue pacarin”. Umpatnya ketika keluar kelas dengan tanpa perasaan berdosa, cuman rasa malu saja yang menghinggap. Tak lain dan tak bukan ialah di lihat oleh si tukang kutu buku.
            Hah sudahlah, lebih baik ke perpus untuk membuat puisi. Kuliah di jurusan teknik, tak membuat saya melupakan dengan puisi. Di perpus saya menemukan gambar dari berbagai media yang ada. Maka tak heran perpus tempat favorit kedua saya setelah kantin.
            Puisi memperlambat waktu yang ada di dalam dunia saya, menjadikan hal putih menjadi warna pelangi. Tak perlu berbicara tentang bintang atau dekapan sang kekasih, karena itu hanya sebagian kecil yang ada. Kini puisi menjadi hal yang tak di perhatikan, tertelan waktu dan tergilas zaman. Semua harus berdiri, walaupun kaki terkilir.
            Saya coret-coret kertas putih harian saya. Teman-teman biasanya mencemooh, “buku harian jelek saja tak boleh untuk di buka, lagian kamu itu kan cowok”. Kata-kata seperti itulah ketika saya baru mulai mengenal teman-teman baru saya.
            Saya mulai dari kata demi kata,,
Sombong lidah itu tak berbentuk, ia terbungkam.
Tak ada wujud di muka hingga tak ada dahi yang manggut.
Orang bilang mereka kaum terpelajar.
Tapi kumpulan seperti orang terbuang.
Buang lekat terkadang makanannya.
Mata pena itu penipu, hanya untuk menjadi babu.
Tuan rumah merangkak untuk berjalan di rumah sendiri.
            “Haduh kenapa jadi begini yah, nanti lagi lah di lanjutkan”. Gumamnya, sambil melirik seluruh ruang perpustakaan.
            Orang bilang gadis berjilbab lebar itu sepertinya hanya berkumpul dengan komunitasnya. Saya tak percaya itu. Orang bilang pria berjenggot pasti memiliki pemikiran keras di dalamnya. Saya juga tak percaya itu. Namun hal ini begitu indah untuk di pandang dengan mata telanjang.
            Ini buktinya gadis berjilbab pink itu mengobrol dengan laki-laki yang tidak berjenggot, dan berkumpul dengan sahabat-sahabat yang tak berbusana seperti dia. Sepertinya orang-orang di bangku tengah itu sedang asyik membicarakan sesuatu.
            “Gubraak”, saya tumburan dengan seseorang. Buku di tangannya pada jatuh. Apabila di sinetron tak berakhir. Pasti seseorang yang saya tabrak ini adalah seorang gadis promadona kampus dengan di tambah hembusan angin sepoy-sepoy. Lalu marah-marah dengan seenaknya sendiri. Lalu saya dan dia jatuh cinta. Begitulah berulang-ulang. Mengelus dada kala mengingat itu.
            “Maaf yah dik, ibu buru-buru tadi”. Jawabnya dengan tangan yang mengambil bukunya. Jangan pikir bahwa saya akan berpegangan tangan. Orang ibu ini sudah tua, karena ia penjaga perpus di ruang jurnal. Kalau masih muda, yah saya mikir satu kali donk. Ehm ehm.
            “Iya buk, nggak apa-apa”. Jawabnya.
            Langkah kaki saya begitu cepat, untuk menuju kantin karena perut sudah mengeong.
Bersambung...
Oleh : pratama
Sebuah Cerpen Berlanjut


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asuransi