Hati seseorang, siapa yang tahu !

Tulisan ini, dari blog ane yang di http://agungpratama11.wordpress.com/, 4 September 2013
9.1.2013
Antum nih, nak ngadep tuhan !
Mesin putar yang selalu mendinginkan suasana dalam keadaan shalat, telah berubah menjadi sangat panas baik di luar maupun batin saya.
Waktu telah menunjukkan shalat isya’,, dengan pertanda suara dengungan adzhan yang indah. Langkah kaki mulai bangkit dari tempat tidurku yang memanjakan, rasa air wudhu mendinginkan setiap hembusan nafasku yang menenangkan dalam otakku.
Celana yang aku gunakan adalah celana Training hitam di lengkapi dengan corak putih dan biru sedangkan baju yang aku kenakan ialah berwarna putih di hiasi gambar depan baju yang cukup besar dengan di tambah corak cokelat yang saya pikir itu getah atau apalah, saya tidak tahu dan di belakang baju masih polos putih tapi ada lubang kecil yang sedikit robek (koyak) tapi saya tidak menghiraukannya. Setelah selesai wudhu dari kamar mandi belakang,, dengan melintasi ruang tengah terbesit dalam pikiran untuk mengganti baju tetapi seketika aku tinggalkan karena nanti bisa bisa-bisa masbuk shalatnya.
Ayunan langkah bergilir silih berganti menuju masjid biasa tempat saya shalat, saya berhenti untuk masuk ke dalam karena sebagian dari jamaah ada yang shalat sunah, matapun menajamkan pandangan dengan beberapa orang seketika jamaah itu selesai,,, kumandang lantunan khomat pun terdengar. Saya pun bergegas untuk mengambil shaf belakang karena saya cukup malu ( saya pikir lagi kenapa saya harus malu dengan orang-orang itu aturan saya malu kepada Allah SWT,, pikiran itu terbesit ketika selesai shalat )
Gerumunan jamaah sudah mulai berbaris, tetapi dia orang yang mempunyai wajah cukup menarik,, dengan kulit putih di lengkapi dengan celana batik sedangkan bajunya berwarna merah walaupun tubuhnya tidak terlalu tinggi dengan saya. Langkah orang itu berhenti dan menatap saya, tetapi tatapan itu lembut sembari senyum kecil, saya diam tidak melakukan apapun. Barisan sudah mulai mau rapi, tiba-tiba kata yang keluar dari seorang tadi menerka tajam, mengoyak isi hati, jantung, logika semuanya. Hampir merasakan sakit yang berlebih hati ini sedih mendengar ucapan yang begini,, “antum nih, nak ngadep tuhan”.
Kata-kata itu sontak membuat seluruh pikiranku ingin menghajar orang itu, apalagi hati ini seakan-akan tidak menerima, dengan ucapan itu. Udara yang begitu dingin karena sebelumnya ada hujan yang turun di tambah dengan kipas angin yang tornado “merknya”, tak mampu meneduhkan dan mendinginkanku. Tanpa kusadari pikiran ini menjelajah-jelajah tanpa tak terkecuali pikiran yang berbau negatif merasuk silih berganti dalam pikiran untuk dapat menyerang orang itu.
Takbir, ya takbir dalam shalat yang mengingatkanku untuk berpikr husnudzon, salam pun telah diucapkan, tapi hati ini masih cukup terluka dengan lisan seseorang yang lebih tajam dari pedang, sampai belum bisa memaafkan.
Entah aku yang salah atau dia yang benar, bagi saya kata-kata bisa dihaluskan tanpa mengandung dampak yang besar bagi seseorang.
“ Nasehati aku kala sunyi dan sendiri, jangan di kala ramai dan banyak saksi. Sebab nasehat di tengah khalayak terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak, maka maafkan jika aku berontak” (Imam Asy Syafi’I)
Dan itu adab yang di ajarkan oleh imam syafi’i dalam nasihat menasehati sesama saudara semuslim ataupun non muslim. Lidah emang tak bertulang, tapi dari lidah ini lah sejarah mencatat bahwa banyak manusia yang gugur. Semoga mendapat hikmah dari cerita di atas. Aamin
Komentar
Posting Komentar