Luka ini ! oleh Domba atau Serigala ?
Biarkanlah
orang kecil seperti kami ini berkarya di dalam suatu wadah, tanpa harus di
sudutkan, dengan segala bentuk kemunafikan yang ada. Apalagi kemunafikan yang
membuat mata hati ini, menjadi tersakiti. Terlepas apakah wadah kita ini
mempunyai visi yang sama atau tidak, bagi kami, kami bukanlah patung ketika
kami di gigit dengan bisa yang tajam lalu kami berdiam diri, dengan tidak
merasakan apa-apa. Walaupun luka lama itu kami tutupin, walaupun perih yang kami rasa. Bagi kami orientasi lebih
utama dari luka ini. Tapi domba yang mempunyai taring atau serigala itu lebih
buas ternyata, lebih leluasa untuk mencabik-cabik luka lama, menjadi luka baru
yang lebih dalam.
Lebih
baik terisolasi dan terbuang, dari pada di selimuti tapi selalu di tindas di
dalam pekatnya malam. Sadar atau tidak sadar, pekatnya malam lama kelamaan akan
menjadi siang yang terang. Proses yang utuh akan mengalami kebusukan sebelum
menjadi bangkai, pada hakekatnya baunya akan semerbak ke segala penjuru.
Semangat itu yang akan lahir dari rahim organisasi ini, menjadi ternodai,
menjadi kekecewaan, menjadi delima, yang tidak akan terobati dengan curahan
hati yang tak menyelesaikan di siang bolong. Bukti nyata adalah harga mati bagi
kami, karena ini bukan masalah personal, ini masalah yang lebih besar, ini
masalah adik dan kakak terlepas dia kandung atau tiri.
***
Polarisasi
yang di bilang rapi, dari perakitan, perencanaan sampai aplikasi. Menjadi tanda
tanya besar di dalam sebuah kajian. Bahwasanya tidak mungkin serangan fajar
sedetail mungkin menyerang dengan cara tebang pohon. Politisi yang handal pun,
tak akan bisa menyerang serapi mungkin kalau dia tidak menguasai medan politik
yang ingin dia kuasai. Di sini kita lihat, tebang pohon bukanlah hal yang bisa
di lakukan oleh orang-orang yang tidak mempunyai tampung kekuasaan dalam
mengambil sesuatu kebijakan. Karena orang yang awam akan melakukan tindakan
serangan yang lebih brutal dengan tanpa pola sedetail mungkin. Itu mungkin
sedikit analisis dari orang-orang pinggiran yang tak tahu apa-apa seperti kami
ini.
Banyak
hal yang bisa terjadi, domba yang bertransformasi menjadi serigala pun tidak
menutup kemungkinan. Karena mereka ingin memakan anak manusia yang bersaudara
adik dan kakak, yang ingin mencari secercah cahaya di dalam pekatnya kegelapan
malam sang negeri. Menggiurkan melihat adik dan kakak yang berpecah belah,
karena tak ada benteng yang saling menjaga mereka. Lalu akan banyak pula domba
yang seakan-akan menemani dan serigala yang kelaparan ingin menyerang. Hal itu
harus sangat di hindari, ikatan ini harus lebih kuat, jangan sampai terpecah
belah karena kolektif lebih kuat dari sendirian.
***
Solusi
untuk pertolongan cepat, harus di tanggapi kakak dengan cepat. Nanti luka itu
begitu dalam, mandiri menjadi hal yang akan kami lakukan jika tak ada obat
pertolongan pertama. Kami percaya “hitam adalah hitam” dan “putih adalah
putih”. Jangan sampai ada dusta di antara kita, karena dusta adalah pondasi
bangunan yang paling lemah dan kuat jika di pandang lewat mata. Menunggu waktu,
melihat kondisi, menjadi bom waktu di dalam bangunan. Setidaknya keyakinan
mungkin solusi cepat yang kami tawarkan, agar tak ada kebohongan dan kebusukan.
Jika pun keyakinan sampai di manipulasi atau di monopoli, maka biarlah laknat sang
pencipta langit dan bumi ini menimpamu. Amien. Karena tidak mau menolong adik yang
sedang terluka dan hanya bisa melawan rasa sakit.
Kami
ini tak mempunyai daya, sudah sewajarnya mungkin, sebagai adik kecil yang bukan
boneka mungkin di tindas dan di tumbalkan menjadi hal yang biasa di dalam
ikatan keluarga ini, hanya batin lah yang sakit mengenang bapak ibu terlebih
terdahulu yang membesarkan kita dengan penuh tetes air mata dan darah di wadah
ini untuk mengarungi medan terjal.
Perspektif
yang berbeda mungkin akan di anggap ganjil, oleh seorang kakak yang sudah
malang melintang dalam belenggu hitam medan terjal. Cara berbeda mungkin di
bilang penentang, bagi sang kakak. Lagi-lagi, hati menjadi petunjuk jalan di
dalam jalan yang terbentang untuk tentukan pilihan. Bagi kami berpikir merdeka
adalah salah satu cara, untuk menguasai medan, tanpa tahu akhirnya seperti apa,
yang pasti inilah cara berpikir seorang manusia untuk mencari kebenaran dan
bukan kemunafikan.
Akhir
kata, semoga obat itu cepat di berikan. Jangan sampai sang adik berlari ke atas
jurang dan meloncat sehingga timbul sayap untuk terus mandiri mengarungi medan
terjal. Domba atau serigala, semoga ampunan sang pencipta langit dan bumi ini
menyertaimu serta simpanlah maaf mu ketika bertemu kami. Keikhlasan itu
tempatnya di hati, biarlah hati yang menentukan. Karena kami orang pinggiran
kampus.
Celoteh
di sore hari, Problem Keluarga
Kami
itu adalah agung, febri, dimin, adi, Safar, zaenal, arif dan laen2 kalau mau.
Tulisan
ini di pubilkasikan lewat facebook pada tanggal, 17 November 2013 pukul 16:20.
Dinamika dari kehidupan kampus, memang mempunyai banyak warna.

Komentar
Posting Komentar