Pedang tak bermata



            Empat bulan belakangan ini, selalu dan senantiasa saja saya di hinggapi dengan rasa beban yang sangat berat. Seperti halnya angkat barbel, tentu hal yang di rasakan berbentuk nyata. Sedangkan hal ini sangat berbeda karena hal ini tidak terasa secara nyata namun dampaknya memperburuk realita.
Mungkin ini tentang menyangkut hati kamu barangkali, sehingga kamu kehabisan nafas seperti ini.
Kok hati sih, nggak nyambung lah atau juga tidak tahu lah. Kita lanjutkan saja hal lain dari pada membahas hal itu, nanti juga ada waktunya.
Pernah mendengar si buta dari gua hantu ? jawab dulu, pernah mendengar atau menonton atau tidak pernah sama sekali. Apabila pernah, apa yang dapat di petik dari kisahnya.
Saya sendiri pernah menontonnya namun itu pun sudah lupa, namun saya membaca review kembali kisahnya agar saya tidak salah menghubungkannya dengan apa yang saya tulis ini.

Semuanya menjadi kacau karena hanya sebatas di pikirkan saja, tanpa melakukan tindakan untuk dapat mencapai ke tujuan. Entahlah saya pun tak tahu tulisan ini tentang kekalahan atau tentang sepercik api.

Apabila si tokoh utama dalam kisah di atas, agar ia dapat menambah kekuatan-nya maka langkah yang ia putuskan adalah dengan harga kedua matanya tak dapat melihat. Namun di sini sosok itu bukan seorang tokoh utama dalam hidupnya. Seperti orang ling-lung ia terus mencari apa yang membuatnya gelisah, sehingga tidur di siang hari dan malam-nya tak tidur menjadi kegiatan-nya beberapa pekan yang lalu.

            Toa dan pena, dua senjata untuk saat ini. Namun kini toa itu telah usang, tak sesuai lagi dengan konsep abad touch screen seperti saat ini begitulah katanya. Dari itu semua maka penalah yang tersisa. Baginya pena itu adalah pedang yang harus di pegang. Sedetik kemudian inilah jalan keluar untuk membawa suara yang tak dapat di dengar agar di dengar. Kegagalan seringkali menghinggap dalam meneriakan suara itu semua.

            Negara kesejahteraan ? dalam hal apa ? siapa yang paling menikmatinya. Pada akhirnya semua suara menjadi hilang. Bangun, bangun, bangun. Untuk apa aku bangun, jika hari ini hanya untuk memikirkan tanpa ada yang dapat di ubah.

            Pada awalnya pedang itu memang sangat tajam dengan pengguna yang merasa bahwa ia mampu mengendalikan pedangnya. Hasilnya pun bukan menebas dengan tajam setiap kebijakan. Namun ia terlalu terbuai tentang menuliskan setiap tingkah laku manusia di atas bebatuan di sungai Hasilnya pun belum selesai untuk di tuai dari senjatanya, karena hasilnya telah hanyut terbawa oleh arus sungai.

            Dan pada akhirnya pena itu sudah terlalu tumpul. Sehingga ia tak dapat menebas atau memotong hal yang sederhana. Ketakutan karena kehilangan itu semua menjadikan-nya menebas dan memotong ke sembarang arah. Namun percuma juga, karena pedang itu telah tumpul.

            Hal yang tersisa kini ialah pengguna pedangnya, seberapa sanggup ia bertahan tanpa kekuataan. Atau ia harus mencari kekuataan yang lain agar dapat membuat pedangnya kembali tajam karena pedang itu sekarang tak bermata.

            Detik ini, menit ini, sudah mulai berputar dari sini untuk kembali bangkit. Semua harus di awali kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asuransi

Parto dan Puisi #PartoStory01