Pedang tak bermata
Mungkin
ini tentang menyangkut hati kamu barangkali, sehingga kamu kehabisan nafas
seperti ini.
Kok
hati sih, nggak nyambung lah atau juga tidak tahu lah. Kita lanjutkan saja hal
lain dari pada membahas hal itu, nanti juga ada waktunya.
Pernah
mendengar si buta dari gua hantu ? jawab dulu, pernah mendengar atau menonton atau
tidak pernah sama sekali. Apabila pernah, apa yang dapat di petik dari
kisahnya.
Saya
sendiri pernah menontonnya namun itu pun sudah lupa, namun saya membaca review
kembali kisahnya agar saya tidak salah menghubungkannya dengan apa yang saya
tulis ini.
Semuanya menjadi kacau karena hanya sebatas di pikirkan saja, tanpa melakukan tindakan untuk dapat mencapai ke tujuan. Entahlah saya pun tak tahu tulisan ini tentang kekalahan atau tentang sepercik api.
Apabila
si tokoh utama dalam kisah di atas, agar ia dapat menambah kekuatan-nya maka
langkah yang ia putuskan adalah dengan harga kedua matanya tak dapat melihat.
Namun di sini sosok itu bukan seorang tokoh utama dalam hidupnya. Seperti orang
ling-lung ia terus mencari apa yang membuatnya gelisah, sehingga tidur di siang
hari dan malam-nya tak tidur menjadi kegiatan-nya beberapa pekan yang lalu.
Toa dan pena, dua senjata untuk saat
ini. Namun kini toa itu telah usang, tak sesuai lagi dengan konsep abad touch
screen seperti saat ini begitulah katanya. Dari itu semua maka penalah yang
tersisa. Baginya pena itu adalah pedang yang harus di pegang. Sedetik kemudian
inilah jalan keluar untuk membawa suara yang tak dapat di dengar agar di
dengar. Kegagalan seringkali menghinggap dalam meneriakan suara itu semua.
Negara kesejahteraan ? dalam hal apa
? siapa yang paling menikmatinya. Pada akhirnya semua suara menjadi hilang.
Bangun, bangun, bangun. Untuk apa aku bangun, jika hari ini hanya untuk
memikirkan tanpa ada yang dapat di ubah.
Pada awalnya pedang itu memang
sangat tajam dengan pengguna yang merasa bahwa ia mampu mengendalikan
pedangnya. Hasilnya pun bukan menebas dengan tajam setiap kebijakan. Namun ia
terlalu terbuai tentang menuliskan setiap tingkah laku manusia di atas bebatuan
di sungai Hasilnya pun belum selesai untuk di tuai dari senjatanya, karena
hasilnya telah hanyut terbawa oleh arus sungai.
Dan pada akhirnya pena itu sudah terlalu
tumpul. Sehingga ia tak dapat menebas atau memotong hal yang sederhana.
Ketakutan karena kehilangan itu semua menjadikan-nya menebas dan memotong ke
sembarang arah. Namun percuma juga, karena pedang itu telah tumpul.
Hal yang tersisa kini ialah pengguna
pedangnya, seberapa sanggup ia bertahan tanpa kekuataan. Atau ia harus mencari
kekuataan yang lain agar dapat membuat pedangnya kembali tajam karena pedang
itu sekarang tak bermata.
Detik ini, menit ini, sudah mulai
berputar dari sini untuk kembali bangkit. Semua harus di awali kembali.

Komentar
Posting Komentar