Berteman Sepi
Sebuah sajak
Orang
bilang engkau itu menakutkan ? Tapi warna di setiap hariku berwarna. Cemohan dari
sang mulut masih bertarung. Berdiri tegap hanya sendiri.
Akhirnya,
hilangnya sang kuda membuat aku tak berpacu. Ia tidak ku rawat hingga pada
akhirnya. Ternyata semu, semua hanya keegoisaan. Teriakan hanya parau, tak
terdengar hingga di telinga.
Ku
ketahui semu hilang. Pohon-pohon berteriak. Memantul dalam nyanyian kesedihan.
Kesedihan penyesalan masa lalu.
Ku
ambil secarik kertas, ku katakan cinta kepadanya. Dentingan waktu
membangunkanku, telah satu abad ternyata aku hanya mematung. Angin pun diam,
seakan enggan untuk berhembus.
Apa
aku ketakutan ? tidak, aku tidak merasakan ketakutan. Harapan dari sebuah surat
masih ada. Telah terkikis hilang di tepi laut. Kehilangan berarti kedatangan,
ku tancapkan di dalam hati.
Mungkin
sedang mencari teropmpet. Siapa tahu sepertia apa ia di sana ? Sebuah
penyesalan akan kerinduan. Berharap kemenangan akan datang. Tapi cahaya semakin
redup, wajah sombong ini telah ku siram.
Ku
panjatkan dalam do’a. Lantunan suara hati juga ku lantunkan kembali.
Berdenting-denting, ternyata hujan telah turun. Membasahi bumi hati yang
kering. Tumbuh dan segar masih tak ada, haus masih menggantung.
Senyum
itu telah hilang, tatapan kosong hanya meraung. Hempas dawai terdengar indah,
ku hirup dari hidung. Ternyata aku masih hidup, untuk berteman sepi.

cie blog bluuu
BalasHapusha ha ha... alay
BalasHapus